Posted in Batik Art

Transforming a Wastra into ‘Wastra’

Wastra, sebetulnya adalah kata serapan dari bahasa Sansekerta yang berarti sehelai kain yang dibuat secara tradisional dan terutama juga digunakan dalam matra tradisional. Salah satu jenis Wastra adalah Batik. Di Indonesia, terutama Jawa, motif batik bisa mencapai ribuan jumlahnya. Namun diantara ribuan motif tersebut, ada satu motif yang sangat khas yaitu motif Parang Curiga. Motif Batik Parang Curiga adalah salah satu motif yang termasuk pola geometrik-parang. Ciri khas dari pola ini adalah ragam hias yang disusun sejajar dengan sudut 45o. Kemudian selalu ada ragam hias berbentuk belah ketupat yang juga sejajar dengan ragam hias utama pola parang. Ragam hias ini disebut sebagai mlinjon.

-Motif Batik Parang Curiga-

Ke-khas-an motif inilah yang mendorong Saya untuk menciptakan sebuah jenis huruf yang bermimikri dengan elemen-elemen yang terdapat dalam batik Parang Curiga sebagai bahan Tugas Akhir saya di jurusan DKV-Universitas Pelita Harapan.


Why Batik?

Tidak ada alasan mendasar yang menyebabkan batik dipilih sebagai acuan visual dalam menciptakan typeface. Hanya saja, karena batik merupakan salah satu hasil kebudayaan Indonesia yang agung, maka dianggap mewakili nuansa etnik yang ingin disertakan ke dalam desain huruf ini. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Karen Cheng (2005:8) “Of course new type designs are not driven exclusively by marketing, technology, or functional concerns. The urge to create is quite personal, the impetus might even be an extention of a historical, intellectual, or cultural inquiry… In some cases the inspiration behind a new font is purely visual”.
Eksplorasi Anatomi Batik Parang Curiga

Seperti yang diungkapkan diatas, inspirasi dalam membuat perwajahan huruf dapat saja langsung bersifat visual. Oleh karenanya disini akan dianalisa bagian-bagian dari batik parang curiga yang dapat kemudian diangkat menjadi anatomi desain huruf yang tercipta pada akhirnya.
– Luk


Bagian ini adalah bagian paling khas yang membentuk keseluruhan tampilan batik parang curiga. Sesuai namanya, curiga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti keris, ditampilkan dengan penyederhanaan bentuk atau stilasi kedalam pola ragam hias. Bagian yang berbentuk zig-zag ini dalam terminologi keris disebut sebagai luk.
– Mlinjon

Dalam setiap motif batik parang ada satu elemen yang tidak pernah ketinggalan. Bentuknya sangat unik, yaitu belah ketupat dengan bidang yang semakin kecil ke dalam dan dipisahkan oleh garis (border). Konon inilah elemen yang paling sakral didalam sebuah motif batik parang. Elemen ini lazim disebut mlinjon.
– Tuding


Sebenarnya ini adalah istilah yang saya ciptakan sendiri, karena entah harus menyebutnya dengan apa. Bagian ini bentuknya bervariasi dalam desain batik parang curiga. Ada yang bentuknya nyata, ada juga yang bentuknya hanya seperti ending stroke atau tarikan akhir darisebuah goresan canting sehingga tidak terlalu nyata keberadaannya. Saya menyebutnya demikian karena diambil dari bahasa jawa “nuding” yang berarti menunjuk.
Myriad Pro Sebagai Huruf Acuan

Disini huruf yang Saya jadikan acuan untuk kemudian dimodifikasi dengan anatomi batik yang telah dianalisa diatas adalah “Myriad Pro”. Myriad adalah huruf yang didesain oleh Carol Twombly dan Robert Slimbach pada tahun 1992, yang kemudian dikembangkan lagi menjadi Myriad Pro oleh Christopher Slye dan Fred Brady. Bila dibandingkan dengan Myriad, Myriad Pro lebih men-support figur oldstyle. Huruf ini dipilih karena beberapa alasan, yaitu:
1) Myriad termasuk salah satu kategori huruf sans-serif yang bebas dari ornamen sehingga lebih mudah dalam pengaplikasian anatomi batik yang dapat menjadikan perwajahan huruf menjadi lebih bersifat ornamental.
2) Berdasarkan klasifikasi huruf menurut Maximillien Vox, Myriad dapat digolongkan kedalam kategori “Humanist- Sans”. Hal ini disebabkan karena bentuknya merujuk pada era desain huruf humanis dengan proporsi yang diambil dari huruf kapital klasik Roman. Semangat humanis ini senada dengan batik klasik yang merupakan hasil buatan tangan yang jelas jauh dari kesan kaku-industrialis, melainkan luwes-humanis.
3) Huruf ini memiliki kontras tebal-tipis yang minimal, sehingga stroke atau tarikan garisnya masih sejiwa dengan tarikan garis canting yang cenderung monoline namun tetap dinamis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s