Posted in Galery Lasem

Sedan; Omzet Konveksi Naik 200%

Menjelang bulan Ramadan dan Lebaran, pesanan kerajinan bordir dan konveksi dari industri rumahan di wilayah Kecamatan Sedan Rembang mengalami peningkatan rata-rata mencapai 200 persen. Sejumlah produk yang diminati pasar adalah kerudung, jilbab, baju muslimah, dan baju takwa.

Pengusaha bordir, Nur Rokhmat SH mengutarakan, kenaikan tersebut masih cukup wajar. “Seandainya saja tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tinggi, kemungkinan akan ada kenaikan yang lebih dari saat ini. Tapi sudah ada kenaikan saja, kami cukup bersyukur,” katanya.

Nur Rokhmat menambahkan, untuk memenuhi permintaan dari pelanggan bordir tersebut, rata-rata pengusaha bordir mempekerjakan sejumlah keluarga binaan untuk menggarap sejumlah pesanan.

“Keluarga yang mau mengerjakan bordir bisa mengambil bahan kemudian dikerjakan di rumah masing-masing. Selain itu ada juga sejumlah pekerja yang rutin menggarap pesanan bordir dan konveksi,” ujarnya.

Dikatakan, saat ini pesanan yang paling banyak berasal dari Madiun, Jember, Malang, dan sebagian Sumatera. “Selain itu, beberapa kota seperti Cirebon dan Kuningan, Jawa Barat juga sudah banyak yang memesan,” tuturnya.

Ny Choirotun SE, pengusaha bordir lainnya mengakui, kenaikan BBM belum berdampak terhadap industrinya. Hal ini, kata dia, disebabkan permintaan sudah mengalir semenjak beberapa bulan lalu.

“Mengenai harga, kami juga belum punya rencana untuk menaikkannya. Mungkin menjelang Lebaran nanti harga sudah akan dinaikkan,” tandasnya.

Meski para pengusaha sudah memiliki cakupan jaringan pemasaran yang luas, namun hingga saat ini belum ada satu pun asosiasi ataupun forum bersama antarpengusaha.

Selama ini mereka masih bersikap individual dan belum membentuk kelompok. “Pembentukan asosiasi atau forum bersama antarpengusaha hanya sebatas bisik-bisik saja. Karena untuk membentuknya, kami perlu fasilitator,” ucap Muflihin, pengusaha bordir merek AFA.

Dia berpendapat, akibat tidak adanya asosiasi tersebut mengakibatkan pengusaha tidak terkoordinasi. Baik menyangkut bantuan ataupun pencarian dana.

“Kami berharap akan ada pihak-pihak yang menjadi fasilitator. Mungkin bisa dibentuk koperasi yang bisa memberikan dukungan,” terangnya.

Ketika ditanya mengenai bantuan dana dari pemerintah, ketiga pengusaha tersebut mengatakan belum pernah mendapatkan. Selama ini jika mereka membutuhkan dana, dilakukan dengan meminjam perorangan ke koperasi unit desa atau bank secara pribadi. (moe-54)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/04/mur25.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s