Posted in Galery Lasem

HARI JADI KABUPATEN REMBANG KOREKSI DAN PELURUSAN SEJARAH REMBANG

  OLEH  HARTADI  (Pemerhati Sejarah – Praktisi Pendidikan Sejarah di Rembang)

A.     Pendahuluan

Sebagai warga Rembang yang sangat menghargai usaha penelusuran sejarah dalam rangka untuk menemukan momentum heroism / kearifan lokal sebagai motivasi dan semangat Rembang Bangkit telah ada penetapan tanggal 27 Juli 1741  dan dituangkan dalam peraturan daerah kabupaten tingkat Rembang no 6 tahun 1993 menjadi : Peringatan HARI JADI KABUPATEN REMBANG.

Setelah menyimak dan mempelajari Paparan sejarah singkat HARI JADI KABUPATEN yang berisi uraian kronologis peristiwa penghancuran Garnisum Kompeni diRembang 27 Juli 1741 yang ditandai kematian Residen Rembang menjadi alasan yang sangat tepat sebagai hari jadi Rembang. Namun apabila Anggajaya sebagai pelaku utama sejarah hal ini disangsikan kebenarannya (janggal)

Mencermati paparan sejarah singkat hari jadi kabupaten Rembang yang dituangkan dalam uraian sejarah singkat hari jadi Rembang yang dibaca pada saat peringatan hari jadi Rembang dan uraian artikel Peringatan HUT Ke-270 Rembang (Suara Merdeka, Kamis, 28 Juli 2011) seperti cerita lepas kurang didukung data dan fakta yang akurat, terlebih berdasarkan latar belakang sejarah pada zamannya yaitu Mataram Islam khususnya setelah pusat Kerajaan bertempat di Kartosura yaitu  tahun 1682-1745. Di samping terdapat pergeseran sejarah juga terdapat pembenaran sejarah yang harus diterima publik tanpa adanya tanggung jawab secara ilmiah, baik dari data historis maupun empiris.

 Pembenaran sejarah semacam  ini harus segera di luruskan karena semakin lama tidak diluruskan. Peringatan sebagai hari jadi kabupaten Rembang sama halnya melakukan pembohongan publik dan sengaja melakukan pemlintiran kebenaran sejarah.

B.       Sinyalemen Pemlintiran Kebenaran Sejarah Hari Jadi Rembang

Beberapa sinyalemen tentang keraguan tentang HARI JADI KABUPATEN REMBANG diantaranya:

1.  Pernah dimuat media SUARA MERDEKA tanggal 28 Juli 2006 berjudul

 * ADA PERGESERAN PENYEBUTAN HARI JADI *  dari HARI JADI KOTA REMBANG menjadi  HARI JADI KABUPATEN REMBANG.

 2.  Urutan BUPATI REMBANG DARI MASA KE MASA : Di muat Media Pantura Pos edisi 5 Agustus 2006 berisikan Bahwa Keberadaan Kabupaten Rembang secara jelas baru ada pada zaman Kolonial Belanda diketengahkan nama-nama Bupati Rembang mulai ADIPATI DJOJONINGRAT 1824-1829 sebagai Bupati pertama,  kemudian berturut-turut sampai Bupati H. MOCH. SALIM tahun 2005.

Mengingat bahwa konfirmasi dari Pemda Rembang dalam menanggapi sinyalemen bahwa telah terjadi pergeseran penyebutan nama tidak benar dengan alasan bahwa tanggal, bulan, dan tahun sudah ditetapkan melalui Perda Kab. Dati II Rembang no. 6 tahun 1993 sebagai HARI JADI KABUPATEN REMBANG ; bukan HARI JADI KOTA REMBANG. Menyadari bahwa setiap mengikuti Peringatan hari jadi setiap tanggal 27 juli terus dirayakan peringatan hari jadi Kabupaten Rembang dan selalu diliputi perasaan ada sesuatu yang hilang dan keragu-raguan percaturan sejarah yang sebenarnya, perlu ada pembanding paparan sejarah yang didukung data dan fakta yang  akurat sebagai usaha alasan dasar pengajuan revisi pada no. 6 tahun 1993.

C.  Salah Tafsir Kronologi Sejarah dari Perda No. 6 tahun 1993

Ada beberapa kajian dari persepsi kronologi sejarah singkat HARI JADI KABUPATEN REMBANG yang dijadikan alasan-alasan penetapan 27 Juli 1741 menjadi perda no 6 tahun 1993 banyak terjadi salah tafsir dengan kenyataan latar belakang sejarah yang sebenarnya meliputi:

1.    Latar belakang Sejarah Rembang :

Dalam paparan sejarah singkat hari jadi kabupaten Rembang diceriteraken; seolah olah tidak terkait dengan latar belakang sejarah lasem dan hanya mengandalkan keberadaan raja Mataram baik melalui sunan Amangkurat I dan Susuhunan Paku Buwono II melegitimasi awal keberadaan Kabupaten Rembang menjadi ceritera sejarah salah sambung mengingat kejadian sejarah Rembang pada masa kerajaan Mataram Islam adalah akibat dari latar belakang sejarah Lasem dalam pembelotan / mbalelo / terhadap raja Mataram melawan kompeni yang telah menguasai wilayah Ilataran daerah kekusasaan VOC dapat dibuktikan dalam peristiwa sejarah seperti:

a.       Pemberontakan Trunajaya III gugur bersama panembahan Romooleh Sunan Amangkurat II yang dibantu VOC mengakibatkan kadipaten Lasem menjadi wilayah kekuasaan VOC, CLAN Rembang disiplin dari wilayah Lasem menjadi kabupaten sendiri atas dasar struktur kraton Kartosura dibawah Penguasa Belanda dalam Keraton yang disebut OPROEF/RESIDEN

b.      Dalam perang Pacinan atau sekitar sejarah runtuhnya kraton Kartosura 1740 s/d 1743. Peristiwa sejarah 27 Juli 1741 di Rembang peran utama sejarahnya bukan Anggajaya tapi bagian latar sejarah Lasem seorang tokoh Keturunan Adipati Lasem R.Panji Margono menyaman sebagai Tan Pan Ciang (bukan PAJANG), melawan VOC di Rembang.

c.       Daerah Rembang pada 1750 terjadi perang yang sangat dahsyat akibat perlawanan laskar bala sabil dan laskar dampuawang melawan kasewenang-wenangan Bupati Lasem. Yang diangkat VOC th 1745; membalas dendam atas kematian Residen Mataram 27 – 7 – 1741 dengan menghancurkan segala peninggalan sejarah Budaya Lasem dengan menyebarkan tetuah dan adu domba berdasarkan Sara. Sehingga para tokoh pejuangnya belum diangkat sebagai tokoh kearipan lokal.

Perlawanan melawan Kompeni belanda dalam penelusuran sejarah di Rembang meskipun latar belakang sejarah Lasem sebenarnya mampu menampilkan dan melahirkan  nama pahlawan yang mempunyai nilai kearifan local di Rembang tetap wajar mengingat Lasem merupakan bagian dari Kabupaten Rembang.

Kematian seorang Residen (bukan Residen Rembang) bukan latar belakang puncak perjuangan Angga Jaya mendirikan Kabupaten Rembang tidak cocok. Nama Rembang mencuat dalam percaturan sejarah dalam peristiwa 27 Juli 1741 hingga momentum ini mungkin agak pantas disebut HARI JADI KOTA REMBANG dari pada Hari jadi kota Rembang meski tanpa ada motif yang jelas.

Pergeseran nama Hari jadi mungkin terjadi akibat DPRD mengira team yang dipercaya menelusuri sejarah Rembang telah menemukan bahwa tanggal, bulan dan tahun tersebut adalah seperti Rencana Pemda Rembang memiliki peringatan HARI JADI KOTA REMBANG tanpa mengkaji ulang kebenarannya langsung ketok palu / setuju dengan ditetapkannya melalui Peraturan Daerah Kabupaten Daerah tingkat II Rembang no 6 tahun 1993.

Akibat yang terjadi paparan sejarah singkat sebagai alasan memperkuat peristiwa kejadiannya kabupaten Rembang hanya sebatas sebuah ceritera Asumsi karena tidak sesuai dengan kronologis sejarah zaman susulunan  Paku Buwono II saat megang kekuasaan di Karto sura, tidak mungkin  melakukan seperti yang diceritakan dalam paparan sejarah singkat Hari jadi Kaupaten Rembang. Seperti:   Susuhunan Paku Buwono II memberi intruksi kepada Anggajaya dengan semboyan “ PERANG SUCI UNTUK MENGHANCURKAN KOMPENI BELANDA “. Jelas terjadi pemlutiran sejarah,  ini  terbukti dalam ulasan hubungan antara susuhunan Paku Buwono II dengan Temenggung Anggajaya sebagai Bupati Rembang. Tidak punya wewenang susuhunan Paku Buwono II Mengangkat Bupati Rembang.

2  Masalah Sunan Amangkurat I

Pada alenea ke 3 (tiga) paparan sejarah singkat Hari Jadi kabupaten Rembang dilukis sebagai berikut : Untuk membentengi kekuasaan VOC didaerah Rembang pada tahun 1685 Sunan Amangkurat I mengangkat pejabat Bupati Rembang dalam rangka untuk membentengi kekuasaan VOC dst.. Ceritera ini mungkin penulis ingin membuka awal tentang asal-usul kabupaten Rembang atas Inisiatif sunan Amangkurat I Sebagai penguasa kerajaan Mataram harus dikaji ulang mengingat bahwa kenyataan yang sebenarnya tidak masuk akal karena pada tahun 1677. Sunan Amangkurat I telah meninggal dalam perjalanan menuju Batavia untuk minta Bantuan VOC menumpas pembrontakan Trumajaya (th 1674- 1679).

Paparan ini yakin bukan salah cetak, hanya membuat ceritera seolah – seolah. Menampilkan jasa Amangkurat I padahal meninggal tahun 1677 delapan tahun kemudian baru mendirikan kabupaten Rembang tahun 1685. Sunan Amangkurat I sangat berbeda dengan Sultan Agung (ayahnya). Yang gigih melawan VOC sedang Amangkurat I sangat bersahabat dengan VOC. Konstribusi sunan Amangkurat I/II baik secara nasional, maupun daerah Rembang ditandai dengan bentuk kekejaman bukan kearifan hal ini dapat ditunjukkan peristiwa:

(a)    Pembunuhan sekitar 5000 sampai 6000 ulama termasuk yang ada didaerah Rembang dan Lasem.

(b)   Pembunuhan besar-besaran atas prajurit lasem termasuk gugurnya Adipati Tejakusuma III dan Panembahan Romo (gresik) dalam perang Trunojaya.

(c)     Dalam pameo sering terdengar ungkapan kalimat jangan seperti Amangkurat yang gemar menumpuk harta rela jual Negara (aja kaya Amangkurat sing seneng numpuk bandha tego adol Negara)

Memang betul bahwa pada tahun 1682. Setelah  pusat kerajaan Mataram pindah ke Kartosura pada zaman sunan Amangkurat II Rembang menjadi kabupaten pada tahun 1682 lepas dari Lasem hal ini dapat dijelaskan bahwa struktur paprentahan nagari Mataram Kartosura ada jabatan Penguasa kompeni Belanda yang disebut OPROEP / OVERHOOFD. Mempunyai kekuasaan atas wilayah Mataram yang dikuasai VOC dan punya hak persetujuan atas tahta Kerajaan Mataram.

OPROEP disebut juga sebagai Residen dalam zaman Amengkurat II (th 1667-1702) telah membentuk Kabupaten Rembang sebagai usaha melindungi kepentingan ekonomi dan pertahanan wilayah pantura. Yang telah menjadi Hegomoni VOC masih diganggubrandal lasem setelah Perang Trunajaya usai.

Bupati Rembang sejak 1682 sampai 1750 termasuk Adipati Tumenggung Anggajaya yang mengalami perang Pacinan di Rembang 27-7-1741 diangkat OPROEP Mataram Kartosura dalam istilah lain OPROCP ini disebut sebagai Residen Mataram Kartosura. Gelar adipura tidak perlu diperoleh dari Ratu,karena sebagai Rijk (Pegawai Negara)dalam sistim ketata negaraan Belanda digaji oleh OPROEP (Residen).

Kedudukan Adipati lain yang diperoleh secara turun temurun meski menjadi wilayah kekuasan VOC tetap harus mendapat gelar Adipati dari Raja Mataram,hal ini dilakukan VOC jika terjadi ada Bupati yang berani melawan kompeni Belanda baik secara diam-diam atau terus terang akan dilaporkan kepada ratu sebagai kekuatan membangkang (mbalelo) akan dihancurkan oleh VOC dibantu Adipati-adipati disekitar yang telah menjadi Bupati Resium Kompeni.

Kekuasaan Residen Mataram Kartosuro terhadap tahta kerajaan dapat dibuktikan dengan Nasib Sunan Amangkurat III dipecat  karena membantu Untung Sunapati dan dibuang ke Ceulon dengan Pangeran Puger (Sunan Paku Buana I).  Sedang Putra Malaka Arya Mataram (ayah dari Mas Said) tidak diangkat sebagai pengganti. Kesimpulan dari lahirnya Sejarah Rembang sebagai daerah Kabupaten pada zaman Mataram Kartosura tidak ada kronologis didirikan atas alasan perjuangan melawan VOC, atau diangkat oleh susuhunan Paku Buwono II.

3.        Hubungan Antara Susuhunan Paku Buwono II Dengan Tumenggung Adipati Anggajaya

 Dalam paparan sejarah singkat Hari jadi Kabupaten Rembang  ditulis sebagai berikut,GERAKAN RAKYAT REMBANG. Bergabung dengan pemberontakan Cina atas instruksi susunan Paku Buwono II untuk menghancurkan kompeni Belanda dipimpin oleh Ingabehi Angga Jaya beliau adalah Bupati yang diangkat oleh susuhunan Paku Buwono II. Menggunakan  alasan  seolah-olah mendapat Restu dari Mataram Kartosura Zaman  Susuhunan Paku Buwono II ini benar benar tidak sesuai dengan latar belakang sejarah Perang Pacinan atau sejarah Runtuhnya Keraton Kartosura.

Kedudukan SUSUHUNAN PAKUBUWONO II dalam perlindungan VOC menghadapi pemberotakan;

v               Mas Garendi bersama pasukan kuning (cina) berhasil menduduki Keraton Kartosura bergelar Sunan Amangkurat V 1742. Susuhunan PakuBuwono II mengungsi ke Ponorogo.

v               Pemberontakan Mas Said (Pangeran sambernyawa)1741 s/d1757. Terakhir menjadi Adipati Mangkunegara I dalam wilayah Keraton Mataram Surakarta th 1757.

Basis perjuangan Mas Said meliputi daerah Sukoharjo, Sukawati/ Sragen, Karangayar, Purwodadi, Blora dan Rembang.

Latar belakang penyerbuan fungsi Kompeni Belanda di Rembang 27 Juli 1741 pelaku utama Perang Pacinan ialah TAN Pan Ciang. Bukan Pajang nama samaran pejuang Lasem yang bernama R.P Margono ; seorang putra Adipati Lasem Tejakusuma V , tidak mau mengganti ayahnya menjadi Adipati karena Lasem telah menjadi hegemoni VOC. Lebih memilih melawan VOC.

Terjadinya perselisihan di Keraton Karto sura atas tahta kerajaan Mataram, Lasem lebih cenderung membela Pangeran Aryo ( Mangkunegara Kartosura ) yang kemudian diteruskan oleh Mas Said dalam peranng Pacinan.

Alasan penyamaran dalam menghimpun pengungsi Cina di Rembang dan Lasem melawan kompeni untuk menyelamatkan Adipati Lasem terhadap Ratu Mataram biar tidak dianggap mbalelo atau brandhal oleh Susuhunan Paku Buwono II.

Bupati Lasem Widyaningrat 1727-1745 meskipun nama aslinya Oei Ing Kial; bukan bearti beliau Bupati Cina karena gelar Adipati sebagai pengganti Teja Kusuma V. Gelar Tumenggung Adipati Widyaningrat adalah pemberian dari Ratu Mataram Kartosura pada pemerintahan Susuhunan Paku Buwono I.membuktikan bahwa bentuk ( Caruban / Pembauran ) telah berlaku di Lasem sejak zaman Kesultanan Demak;Taman Sito resmi sebagai lambang harmoni dalam kehidupan masyarakat Lasem terjadi kehidupan yang selaras dan seimbang sebagai perwujudan dalam kehidupan Bheneka Tunggal Eka.

Konotasi yang sekarang terjadi karena hebatnya penulisan sejarah dari versi Nederland Sentris merupakan tantangan Ahli Antropologi Budaya kita untuk menghilangkan fituah yang terjadi termasuk dalam penulisan sejarah Hari Jadi Rembang Kabupaten Rembang, peristiwa 27 Juli 1741 tidak mau jujur menjelaskan latar belakang sejarah yang sebenarnya mengigat pelakunya berasal dari Lasem.

Pelaku utama dalam perang Pacinan di Rembang di lakukan juga oleh Adipati Lasem, yang lebih di kenal dengan sebutan ( Tumenggung Adipati Kyai Dang Pu Hawang Widyaningrat / Oei Ing Kial ); terbukti beliau beragama Islam .

Sebagai seorang Bupati yang memiliki armada pelayaran yang besar memiliki laskar untukmengamankan jalanya perdagangan maka sebutan sebagai Laksamana Laut atau Putra Baruna seperti Tseng Hoo sebutan Widyaningrat adalah Dang Pu awing ( Laksamana ) yang memimpin lasjkar menyerbu Tangsi yang di huni Garnisum VOC di Rembang.

Peristiwa 27 Juli 1741 sebagai awal yang bagus untuk mengerti siapa sebenarnya yang di maksud Dampuawang di Rembang adalah Adipati Lasem Widyaningrat ( Oei Ing Kial ) bukan Tseng Hoo memiliki konstribusi sebagai tokoh kearifan local di Rembang bersama R. Panji Margono dan masih banyak lagi nama-nama yang lain yang semestinya dapat tampil dalam penelusuran sejarah di Rembang yang Heroik dalam peristiwa 27 Juli 1741.

D.  Argumentasi Sejarah Berdasarkan Data

Susuhunan Pubuwono II tidak mungkin memberi instruksi kepada Anggajaya dalam perang Pacinan karena yang terjadi Keraton Kartosura runtuh akibat perang pacinan.

Anggajaya telah menjadi Bupati Rembag sebelum peristiwa 27 Juli 1741 diangkat oleh Residen /opraep meskipun waktu itu Ratu Mataram adalah Susuhunan Paku Buwono II tidak punya wewenang atas daerah Rembang.

Dalam kapasitas sebagai Bupati Rembang di bawah hegemoni VOC Anggajaya harus bertanggung jawab atas kematian Residen karena pada zaman Mataram Kertosura Bupati Rembang semenjak Amangkurat II sampai Susuhunan Paku Buwono II diangkat oleh OPROEP / Residen dan kenyataan terbukti bahwa akibat peristiwa 27 Juli 1741 Anggajaya bahkan di pecat dari jabatan Bupati Rembang ini fakta.

Ada kemungkinan keikutsertaan Anggajaya dalam perang pacinan di Rembang secara diam-diam membnatu Tan Pan Ciang / R. Panji Margono, seperti yang di lakukan Adipati Widyaningrat / Oei Ing Kial / Bupati Lasem waktu itu sama – sama mejadi Bupati dibawah kekuasaan resmi VOC juga mengalami nasib di pecat dari jabatan bupati Lasem ; meskipun Susuhunan Paku Buwono II sebagai Ratu Mataram mau memaafkan tidak ada pengaruhnya.

Berdasarkan data dan fakta sejarah zaman Mataram Kartosura di bawah Susuhunan Paku Buwono II Anggajaya sebelum peristiwa 27 Juli 1741 telah menjadi Bupati Rembang yang mengangkat ialah Residen , tidak mungkin berani terang-terangan melawan VOC.

Kabupaten Rembang awal berdiri kira-kira th 1682 zaman Mataram Kartosura di bawah Sunan Amangkurat II sampai th 1750. Zaman Susuhunan Paku Buwono II hanya tercatat nama Anggajaya saja Yang jelas ; tapi namaAdipati Rembang periode 1682-1750 diangkat Oproef / Residen kemudian Rembang dan Lasem menjadi satu lagi . Pada tahun 1750- th 1799 zaman VOC Bupati di Lasem  Tahun 1800- th 1811 zaman Daendles Bupati di Lasem

               Tahun 1811- th 1816 zaman Raffles tidak jelas

                  Tahun 1824- th 1945 zaman colonial Belanda.

Kabupaten berada di Rembang sampai sekarang nama-nama Adipati Rembang lengkap dengan tahun pemerintahanya jelas bahkan diteruskan setelah kemerdekaan hingga sampai Bupati H. Moch Salim.

Sebagai pelengkap bahwa daerah Karisidenan Rembang Jepara berada di Rembang  kurang lebih th 1830, sebelumnya tidak ada Reside Rembang yang terbunuh pada 27 Juli 1741.

RESIDEN DI ZAMAN V.O.C :

Seperti dalam kupasan sejarah Rembang awal berdirinya ketika perubahan pusat kekuasaan pindah ke Kartosura zaman Sunan Amangkurat II bantuan VOC menghancurkan pemberontakan Trunajaya dan lain-lain. Yang melawan Amangkurat I maupun Sunan Amangkurat II wilayah Mataram Kartosura seperti di gadaikan kepada VOC.

Birokasi atau Paprentahan Nagri yang berurusan hak menyangkut kenegaraan, dalam kekuasaan di Mataram Kartosura ada penguasa dari pihak VOC disebut Oproef (overhoofd ) dalam istilah keratin di sebut Pengageng Walandi Negari Kartosura atau disebut juga sebagai Residen; telah di jelaskan wewenangnuya saat awal berdirinya Kabupaten Rembang . Residen sebagai Pengageng Ratu Mataram Kartosura atau lebih jelasnya sebagai Ratunya ratu Mataram; sehingga makin jelas jika Adipati Daerah VOC melawan kompeni di anggap Mbalelo terhadap Ratu Mataram yang kedudukan di syahkan oleh Residen . Dala paparan sejarah singkat Hari Jadi Kabupaten Rembang tentang instruksi maupun Anggajaya di angkat oleh Susuhunan Paku Buwono II membunuh Residen Rembang semua menjadi ceritera sejarah yang salah sambung karena data dan fakta untuk di jadikan Hari Jadi Kabupaten Rembang .

Perkembangan sebutan Residen setelah Keraton pindah ke Surakarta 1745 masih zaman Susuhunan Paku Buwono II ada perubahan sebutan OPROEF (OVERHOOFD) semula Residen di ubah menjadi Gubernur di jabat oleh J.A BARON VAN HOGENDORFF th 1745-1754 berkedudukan di Semarang sedang VAN In Hoff menjadi Gubernur Jendral di Batavia.

Dalam kaitan dengan sejarah Rembang dan Lasem setelah perang Pacinan maka Bupati Rembang dan Lasem langsung diganti oleh Gurbenur sebagai Rijkvan Surakarta ( pegawai Negara Kompeni Belanda di Surakarta ).

Adipati Lasem di angkat Sura Adi Menggalo III kemungkinan sebagai Bupati di beri gelar Tumenggung Suma Negara mungkin pengganti Anggajaya di Rembang kurang jelas.

Sebagai gambaran untuk memperjelas sejauh mana kekuasaan Raja Mataram setelah pindah ke Surakarta masih di bawah Susuhunan Paku Buwono II sampai tahun 1749 sbb :

Daerah Mataram saat Sultan Agung mengusai seluruh daerah jawa tengah ke Timur sampai Malang dan Madura, kini semakin habis jatuh ke tangan VOC. Berakibat daerah kekuasaan Keraton Surakarta tinggal mempunyai wilayah kekuasaan sendiri pemerintah asli atau di sebut Swa Praja. Dalam istilah Belanda dengan Vorstand lande, sekitar Keraton saja.

Kedudukan VOC atas Raja Mataram terjadi peristiwa bahwa Susuhunan Paku Buwono II pada tahun 1748 menyerahkan tahta kerajaan kepada J.A Baron Van In Hoffd; sehinga Susuhunan Paku Buwono III menjadi pengganti ayahnya di lantik di Semarang oleh Gurbenur bukti bahwa Ratunya raja-raja Mataram adalah Belanda.

Akibat dari perang pacinan dan kepindahan Keraton ke Surakarta terjadi perang saudara berebut kekuasaan atas wilayah Swap Raja Mataram Surakarta terbagi menjadi kesunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Pura Paku Alaman, Pura Mangkunegaraaan Buwono II sejak dari Kartosura sampai pindah ke Keraton Surakarta secara luas untuk membuktikan bahwa hubungan Anggajaya seolah-olah menjadi Pahlawan atas Restu atau legimitasi Susuhunan Paku Buwono II sangat-sangat bertolak belakang lebih-lebih salah persepsi adanya kematian Residen dan Rembang yang fiktif.

E.  Penutup

Atas beberapa fakta pembanding yang memungkinkan terjadinya tema peringatan 27- 7 1741 berubah maka sebaiknya jalan yang perlu di tempuh antara lain :

1.                Peringatan tetap mengunakan tanggal 27 Juli

2.                Judul Hari Jadi Kabupaten Rembang digeser menjadi Peringtan Hari Rembang

          Bangkit

3.                Penampilan Tokoh Pejuang di Rembang yang gigih melawan Voc perlu di

           tampilkan dengan pelaku utama :

a.       Raden Panji  Margono

b.      Widyaningrat adalah Bupati Lasem sebagai pemimpin Lasjkar Dampu Awang

c.       Kyaio Ali Badawi tokoh lasjkar Sabil

Pelengkap nama tokoh : Anggajaya, Noyo Sentono, dalam palagan Rembang

Masih banyak lagi tokoh dalam palagan seperti Tan Kiwi, R.P Surya kusuma, R.P Surya Dilaga, R.P Ullaya kusuma dll.

Masyarakat sejarah Indonesia Rembang mempelopori dalam usulan peninjauan kembali atas Perda Kabupaten Rembang Daerah Tingkat II Rembang, no 6 tahun 1993 untuk direvisi dengan menyampikan bahan pembanding atas paparan sejarah singkat Hari Jadi Kabupaten Rembang yang banyak terjadi kesalahan penafsiran pelaku utama dalam subyek dan predikatnya.

Mempertegas dalam seminar bahwa sumber sejarah Lasem tulisan KAMZAH yang terjadi di Lasem sejak Tejakusuma I sampai Tumenggung Widyaningrat 1745 dapat di kategorikan falid sebagai tulisan sejarah fersi Indonesia sentries.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s